Tanpa Di sadari Anakku Belajar Sendiri

Anakku kemarin tanpa saya ketahui bersama dengan temannya melakukan kegiatan bersih-bersih sampah. Tapi tidak untuk membersihkan semua sampah, tapi yang hanya sampah yang bisa di daur ulang yang di kumpulkan untuk di jual, dan kegiatan anakku dapat di katakan jadi pemulung kecil, untuk mendapatkan uang yang hanya sebesar Rp. 2000, tanpa sepengetahuan saya sebagai ibu.

Saya curiga karena waktu itu setelah pulang sekolah biasanya, anakku minta uang jajan, tapi sekarang kok habis sekolah dia langsung bermain. Dan setelah pulang bermain, saya beri dia uang. Kata anakku” gak usah ma, ku masih punya uang”. Setelah bekomunikasi secara baik dia pun dengan sukarela memberitahu darimana ia mendapat uang, dengan gaya anak kecilnya dia bercerita, mulai dari mencari barang bekas di tempat sampah sampai ia menjualnya, wah gak di sangka anakku belajar sendiri, aku sendiri lucu melihat tingkah dan ulah yang di lakukannya, dan aku tanya kamu ada yang nyuruh? jawab anakku gak ada ma.

Namanya anak kecil banyak hal yang ingin di lakukan. Entah itu hal baik maupun buruk. Yang pasti semua yang di lakukan merupakan proses belajar untuk menjadikannya lebih baik. Tapi apakah anda pernah berfikir untuk selalu mengawasinya dalam segala kegiatannya entah itu di sekolah maupun di rumah. Ketika dia belajar di sekolah dan bermain bersama temannya. Pasti sulit kan jika kita terus berfikir apakah yang nanti yang di lakukan si anak. Dan selain itu si anak juga nanti merasa tidak leluasai dalam melakukan aktivitasnya sebagai anak kecil, karena mereka selalu di awasi.

Jadi Tanpa di sadari kita melakukan hal yang tidak tepat bagi si anak, karena selalu ingin mengawasi si anak. Mau main tahu aja masih mikir. Jadi baiknya gimana dong..?? Ya kita perlukan mungkin memikirkan setelah anak itu berbuat, jadi kita coba untuk meluruskan jika terdapat hal yang kurang sesuai dalam setiap kegiatan yang di lakukan, tentunya setelah anak bermain maupun belajar. Jadi kita harus banyak-banyak berkomunikasi dengan si anak. Terkadang hal buruk dapat menjadikan si anak belajar.

Khan orang tua lebih duluan hidup jadi pernah merasakan bagaimana jadi anak kecil. Jadi kita tidak bisa memaksakan kehendak pada si anak dengan mereka harus gini gak, gak boleh gitu, jangan begini, karena yang di butuhkan untuk anak adalah sebuah pengertian.Jadi mungkin sedikit-demi sedikit si anak bisa mengetahui kesalahannya tapi dengan kesadaran si anak sendiri. Karena di rasa percuma kita sebagai orang tua ngomong sampai ngotot dan sampai berbusa tapi si anak malah ngelunjak.Karena cara pemberian pengertian yang tanpa titik koma atau salah. Bagi yang belum atau masih dalam proses punya anak, siap-siap saja jadi orang tua yang mengayomi anaknya. Bagi yang baru punya anak mari belajar bersama-sama mendidik anak secara benar. Karena anak anugerah dari Tuhan.

Related posts

5 Comments

  1. info resep — November 14, 2008 @ 1:13 pm

    Selamat selamat bu…
    Jadi pengen punya anak. Jadi ga sabar buat momongan… tapi sayang belum nikah

    [Reply]

  2. Dhimas — November 14, 2008 @ 1:58 pm

    Wah ponakan saya memang kreatif.. Siapa dulu Omnya.. Huehuehue.. ;)

    [Reply]

  3. jimmy — November 14, 2008 @ 3:08 pm

    hebat bener.. btw anaknya umur berapa?

    [Reply]

  4. harianku — November 15, 2008 @ 12:05 am

    wah suatu perkembangan yang bagus mba, tapi ada baiknya jika kita selalu memperhatikan nya, biasa nya umur segitu udah mulai gratil kalo orang jawa bilang :)

    [Reply]

  5. Rajawali kecil — November 16, 2008 @ 12:32 pm

    Anak yang kreatif :)
    Btw, apakah ini efek dari si Ibu sibuk optimasi blog dan bikin kue :)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment