Liburan Ke Senaputra Malang
Senaputra malang, wisata murah meriah khususnya di kota malang.Selain namanya sudah tidak asing di tengah masyarakat khusunya warga malang.Wisata yang satu ini lama kelamaan semakin di tinggalkan peminatnya.
Masih ingat di benak penulis dulu sebelum ada wisata BNS batu , Museum satwa dll yang baru senaputra salah satu icon tempat wisata di kota malang.Dulu kalau hari biasa pengunjung banyak sekali walaupun tidak sampai penuh ,apalagi kalau sabtu minggu kayak “dawet” alias fuul banget.Tapi ini tadi penulis ama si kecil coba main2 ke sana iih sepi banget (ya nggak sepi2 amat sieh ) cuman dibandingkan dengan yang dulu sangat kontras sekali.
Hiburan yang tak mau ketinggalan masih ada yaitu “kuda Lumping” yang sebelumnya diawali musik dangsut “Koplo” .iihh semakin asik banget .Maklum mumpun masih bisa liburan
.
Penulis nggak tahu lagi sampai kapan wisata / taman senaputra akan selalu eksisUntuk radionay sepertinya sudah eksis banget ..biarpun terhitung baru dalam masuk frekuensi FM tapi lumayan banget .Banyak mengupa kalimat kental malangan alias walikan
.
Semoga Senaputra selalu eksis baik taman rekreasi murah maupun radionya .Walaupun didalamnya masih ada sengketa
SILANG sengketa kepemilikan lahan Taman Rekreasi Senaputra antara Kodam V/Brawijaya dengan pihak Yayasan Senaputra terus berkepanjangan. Dalam kasus ini, terdapat tokoh kunci yang juga mantan Ketua Yayasan Senaputra, Letkol Inf (Purn) Roestam. Siapa dia? Mengapa kasus ini sampai berkepanjangan? Pada tahun 1966-an, Roestam yang saat itu menjabat Pasi IV Kodim 0833 Kota Malang, dipanggil atasannya. Agak terbirit, perwira bagian logistik cepat-cepat menemui atasannya. Pikiran sadarnya, bertanya ada apa gerangan, salah apakah diriku sehingga harus menghadap. Benar saja, Roestam yang tinggal di Jalan Urip Sumoharjo F12 Kota Malang itu mendapat berita mengejutkan. Sang atasan memanggil dia untuk memberi kabar gembira mengenai promosi kenaikan pangkat. Tapi, Roestam tak serta merta gembira. “Meski pangkatnya akan dinaikkan, bapak waktu itu meminta agar tetap ditempatkan di Malang, alasannya anak-anaknya banyak. Komandan waktu itu, Pak Soewandi menugasi bapak mengurus Senaputra,” kenang istri Roestam, Soemini (73 tahun) kepada Malang Post kemarin. Roestam sendiri sudah sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi karena menderita sakit. Secara khusus, ia meminta istri dan putrinya, Anik untuk menceritakan kronologis sengketa taman wisata yang sangat terkenal bagi masyarakat Malang ini. Soemini, perempuan tua lulusan SGP Kota Malang itu sedikit bernostalgia masa-masa awal kiprah Roestam di Senaputra. Kenang Soemini, Roestam mengelola Senaputra saat kondisi taman wisata di jantung Kota Malang bak sabana di pinggir kali. Meski sudah ada kolam besar dan pendapa, Taman Senaputra saat itu belum ditumbuhi pepohonan. “Supaya tidak longsor, bapak mencari bibit tanaman di Kebon Raya Purwodadi, naik truk tentara,” imbuh perempuan asal Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung itu. Sambil menata taman wisata rakyat itu, Roestam yang dikaruniai delapan anak itu berupaya membangun radio. Maklum tahun-tahun 1960, radio amatiran tengah bersemi, Roestam pun sangat hobi utak-atik elektronik. Tak lama, sekitar tahun 1968 berdirilah Radio Senaputra. “Radio itu berdiri dengan biaya pribadi. Bapak menjual tanah pemberian TNI di Kota Batu. Terus berjalan hingga tahun 1970 kembali menjual tanah di Lawang, dan mendirikan TK Senaputra,” kenang Soemini. Gedung TK Senaputra, didirikan demi menjaring pendidikan yang terjangkau, seperti konsep Taman Senaputra. Roestam yang memiliki empat putra dan empat putri itu, juga menyekolahkan anak-anaknya di TK Senaputra. Demi memperkenalkan TK, pada hari tertentu, bocah TK Senaputra mengikuti siaran secara on air. “Saya ini yang kali pertama ikut siaran on air, waktu itu masih TK, konsepnya dengan bernyanyi secara on air,” tutur Anik (40 tahun) putri ketujuh Roestam. Anik membeberkan, sang ayah yang berpangkat terakhir Letkol Infantri itu kini terbaring lemah di atas ranjang. Roestam sudah mulai pikun, seiring penyakit stroke dan penyakit manusia yang memasuki tua, usia Roestam 83 tahun. Kadangkala, saat terbangun tengah malam, Roestam pernah menanyakan perihal sanggar tari Senaputra kepada Anik. “Sejak dulu, Taman Senaputra memang menampung kegiatan seni budaya dan olahraga. Wayang Malangan, Karateka dan sanggar Tari, yang saya ikuti,” ungkapnya. Sanggar tari di Senaputra, mengantar Anik menjuari lomba menari tingkat provinsi, malah Anik menjadi wakil saat ke lomba tingkat nasional. Prestasi itu diraih dekade 1983 hingga 1987, era kepemimpinan Wali Kota Soesamto (alm). Biaya sanggar, seluruhnya ditanggung secara mandiri oleh Senaputra, baik taman maupun radio. “Atas prestasi yang banyak diperoleh Senaputra, Pemprov Jawa Timur memberikan bantuan panggung besar senilai Rp 90 juta. Agar kegiatan seni budaya makin ramai, bapak juga menyumbang gamelan senilai Rp 60 juta,” urai pengelola Radio Senaputra itu. Namun, pada decade tahun 1990-an, sengketa kepemilikan Senaputra terasa santer, antara Kodam dan Yayasan yang diketuai Roestam. Beberapa kali Roestam dipanggil Kodam, sampai akhirnya sengketa mereda saat Pangdam waktu itu Imam Utomo berkunjung ke Senaputra. Pangdam merasa puas dengan kiprah Senaputra, sengketa yang mereda kembali mencuat belakangan. “Senaputra bukan milik keluarga kami, bapak hanya mencoba mengelola Senaputra dengan misi tertentu. Senaputra harus tetap bertahan menjadi wisata murah bagi rakyat dan sentra seni budaya bagi rakyat,” ungkap Anik diamini Soemini. Sengketa yang mencuat belakangan, menurut Anik, ibunya yang paling sakit hati. Selama ini, pembangunan dan pengembangan Senaputra didanai melalui usaha Roestam. Selain menjual beberapa property pribadi, utang pembangunan juga diselesaikan oleh Roestam sendiri. (Bagus Ary Wicaksono/nug/malangpost)






