Ketika IBU Memasak Batu

 BLT memang tak cukup,selain itu tak merata.Masih banyak sekali ibu-ibu yang harus mengencangkan ikat pinggang agar keluarganya terutama anak-anaknya cukup makan disituasi sulit ini Dan anak-anak kurang gizi juga banyak.
BBM naik semuanya jadi naik.Sementara pendapatan tetap,yang pendapatanya tak tentu semakin tak tentu.Sampai ada yang nekad membunuh anaknya sendiri hanya karena kemiskinan.
Perbuatan itu bukanya tanpa disadari kalau itu dosa.Aku yakin kalau sang ibu tahu betul kalau itu perbuatan dosa.Tapi haruskah hatinya serapuh itu menghadapi kesulitan ini?Sungguh ironis sekali.
Tentang ibu yang mengasihi anaknya adalah cerita nurani.Tangisan anak yang lapar adalah sembilu yang mengiris hati sng ibu.Ini adalah cerita fantastis tapi nyata.Tentang anak yang menangis dan hati ibu yang teriris.Kala itu seorang ibu tengah duduk pilu diperapian.Sesekali tangannya mengaduk kuali diatas perapian dan air yang mendidih jelas terdengar.Anaknya dipembaringan bertanya mengapa belum juga matang .Dan sang ibu menjawab agar anaknya sabar dan menyuruhnya untuk tidur.Nanti kalau sudah masak maka akan dibangunkan oleh ibu.Dan percakapan pilu itu terdengar  oleh sepasang telinga dibalik tenda.Apa gerangan yang kau masak wahai ibu?Pikir sang pengintai.Betapa teriris hati lelaki itu ketika sang ibu mengangkat tutup kuali.Batu,ternyata batu yang dimasaknya.Antara percaya dan tidak lelaki itu terbelalak.Lalu ia berlari menuju lumbung Negara,memikul dengan bahunya sendiri,sekarung gandum dan menyerahkan langsung kepada sang ibu.
Ini adalah seorang ibu yang tegar hati yang dipenuhi nuansa iman.Dan seorang pemimpin yang adil dan gemar meneliti keadaan rakyatnya yaitu Umar Al Faruk.Sehingga episode yang pilu berakhir dengan indah.
Bagaimana dengan keadaan saat ini.Hati ibu-ibu yang ditangisi anak-anaknya dan bagaimana pula pemimpin-pemimpin kita?

Tags: , , , , ,

Related posts

2 Comments

  1. sawali tuhusetya — June 14, 2008 @ 2:20 pm

    wah, ngomongin BLT memang nggak ada habisnya, mbak. selain tidak mendidik, sering juga salah sasaran tuh. orang yang mestinya dapat bantuan, justru hanya bisa gigit jari. yang saya heran, kok bisa2nya salah sasaran, yak? konon menggunakan data BPS 2 tahun lalu. payah!

    -Diah-
    betul pak, ditempat saya sendir udah banyak yg salah sasaran..tp anehnya diam seribu bahasa..kayak nggak ngerti apa2 :(

  2. Moh Arif Widarto — June 15, 2008 @ 12:47 am

    Di Indonesia ini, demi uang Rp100ribu per bulan, orang rame-rame mengaku miskin. Akibatnya, banyak yang benar-benar miskin malah tidak terdaftar karena ketamakan orang-orang tidak miskin yang mengaku miskin itu.

    Pada kasus BLT, orang langsung menerima uang. Nah, pada kasus raskin dulu, sungguh menyedihkan. Karena miskinnya, banyak orang yang tidak mampu menebus raskin yang Rp1000 per kilo karena mengambilnya harus sekarung (10kg). Ada yang patungan 2 orang. Akibatnya, yang tidak mendapatkan teman patungan tidak bisa menikmati raskin.

    Duh… Inilah negeriku. Negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

    -Diah-

    kisah “Negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.” seperti mimpi saja kalau melihta kenyataan saat ini mas :(

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment