Kaget Setelah Mudik
Tepatnya di daerah Jakarta Timur, kawasan pedongkelan. Pemilik rumah bernama Muhammad menceritakan bahwa dia kaget kenapa mereka tega melakukan penggusuran sebelum muhammad datang. Muhammad mengatakan bahwa dirinya telah menyewa tanah dan kontarakan di sekitar Jalan Perintis Kemerdekaan dengan harga sewa sebesar 125.000 tiap bulannya. Sialnya lagi Muhammad barang-barang di dalam kontrakan tersebut hilang walaupun nilainya tidak besar tetapi untuk muhammad barang tersebut diperlukan dan di gunakan karena itu hasil kerja kerasnya. Dan barang-barang yang hilang itu adalah 3 buah tabung gas dengan berat 9 kilogram. Dan alat-alat rumah tangga , rice cooker, selain itu rusaknya Televisi yang dimilikinya akibat terbanting-banting.
Selain itu muhammad juga mengalami hal yang sama tidak perlu terjadi, yang menyebabkan anaknya tidak dapat bersekolah. Karena alat-alat sekolahnya tidak satu pun tersisa. Kasihan sekali nasib Muhammad dan seorang anaknya. Mengapa hal itu bisa terjadi setelah Mudik Lebaran. Saya turut peduli atas kejadian bodoh yang tidak etis dilakukan hingga saya merasa kenapa penggusuran dilakukan dengan hal anarkis. Kenapa setiap penggusuran tidak di lakukan dengan baik. Seperti alasan entah itu pengusaha/pemerintah selalu berasalasan mereka sudah di peringatkan sebelumnya untuk pidah. Dan setelah memperingatkan beberapa hari kemudian ada yang tidak pindah mereka langsung saja meratakan aset yang dimiliki pemilik rumah. Sehingga hal itu sangat merugikan pihak-pihak pemilik rumah. Jadi alangkah baiknya jika ketika penggusuran petugas yang bekerja tidak seenaknya sendiri merusak ataupun berbuat anarkis dan harusnya mereka mengeluarkan barang-barang secara baik dan apa yang sekiranya bisa digunakan di berikan kepada pemiliknya. Jadi gak main gusur aja..!!!
Tags: alat rumah tangga, aset, barang barang, jakarta timur, juga, kaget, karena, kontrakan, lebaran, mudik, Pemerintah, Rumah, Setelah, sewa





jadul — October 5, 2008 @ 1:21 pm
mana oleh-olehnya
tipis — October 5, 2008 @ 4:02 pm
yah itulah negeri kita, prihatin bgt ya
sapimoto — October 5, 2008 @ 5:48 pm
Lhah? Klo caranya seperti itu, bagaimana mungkin penggusuran bisa terlaksana? Seharusnya dengan 2 kali peringatan, sudah cukup untuk bisa dimengerti dan segera pindah atau memindahkan barang yang mungkin masih bisa dipergunakan. Jika berada dipihak tergusur, memang kejadian seperti ini cukup menjengkelkan dan membuat prihatin orang yang melihatnya. Tetapi sering kali luput dari perhatian adalah nasib dari pihak pemilik tanah yang seharusnya memiliki hak yang telah lama terampas.
Mohon maaf jika opini saya ini, tidak terlalu disukai banyak orang.
kipram — October 5, 2008 @ 7:56 pm
Wah kasihan si muhamad, walau hanya baca
Cutie — October 6, 2008 @ 1:25 am
Serba salah sih yaa… tapi ya apa mau dikata deh, kadang memang penggusurnya yang salah, tapi kadang memang si penyewa tanahnya jg yang salah,, Itulah resiko klo nyewa tanah di tempat yang rawan2, harus rela pindah..
Abi Bakar — October 6, 2008 @ 2:54 am
Kasihan, malang benar nasib Muhammad
kyai slamet — October 6, 2008 @ 4:15 am
masalahnya penggusuran dilakukan setelah reclaiming alias pendudukan tanah negara/perorangan telah terjadi dalam tempo yang lama dan turun temurun.
harusnya kita bisa kembali pada semangat UUPA. apabila ada perorangan yang menelantarkan tanah lebih dari beberapa tahun, hak kepemilikannya diambil oleh negara. negara kemudian mengatur mekanisme land reform.
ah jadi ingat “jasa” PKI, walau dibenci elitis desa a.k.a kyai yang tuan tanah
kyai slamet — October 6, 2008 @ 4:17 am
napa sih gak dilakukan tindakan preventif. kalo ada reclaiming atas tanah langsung saja digusur. ada PKL langsung gusur. jangan setelah mereka kerasan dong! baru digusur. ah namanya juga proyek. bukankah anggaran tibum DKI jauh lebih besar dibandingkan anggaran kesehatan
ulan — October 6, 2008 @ 7:59 am
minal aidin walfaidzin ya om…
mohon disalahkan semua kesalahan ulan..
eh.. di maafkan maksud nya..
erwin — October 6, 2008 @ 9:32 am
minal aidin walfaizin yah mbak, maap lahir batin, maaf atas komentar-komentar saya yah, matur suwun
sawali tuhusetya — October 6, 2008 @ 2:12 pm
itulah ironi yang terus berlangsung di negeri ini, mbak diah. seharusnya orang2 miskin dan anak2 telantar kan dilindungi negara, tapi kenapa selalu saja terjadi penggusuran, tanpa memberikan solusi. duh, di mana nih kepekaan kaum elite kita?
yuno — October 7, 2008 @ 7:50 am
kira2 apakah mereka (penggusur) hanya bisa mikir “kita hanya menjalankan tugas” tanpa bisa berpikir lagi dengan hati nurani….ya..?